fanfic harvest moon
Title : back to Mineral Town
Genre : friendship
Cast : Jack
Chapter 1: Back to Mineral Town
Jack melangkah masuk ke dalam sebuah lahan perkebunan. Lahan yang luas, namun berantakan dan terlantar. Terlihat ada rumah kecil dan beberapa kandang hewan ternak, sebuah kolam ikan, dan sebatang pohon apel. Biarpun tempatnya berantakan, lahan ini dulunya milik Almarhum kakeknya. Tapi, kini lahan ini diwarisi untuknya. Karena kakeknya sudah lama meninggal dan dirinya baru bisa datang sekarang, maka lahannya pun terlantar.
"Tidak terasa sudah 10 tahun berlalu, ya, Jack." Tedengar suara bapak-bapak di belakang.
Jack berbalik dan melihat ada seorang pria paruh baya yang bulat nan pendek dengan berkemeja merah bata dan mengenakan topi panjang berwarna sama, sedang berdiri sambil tersenyum ramah padanya.
"Kau sudah besar, ya," lanjut pria itu.
Jack ikut tersenyum. "Pak Walikota, lama tidak jumpa," sapanya. Dia ingat pria itu. Pria itu adalah Thomas, walikota di desa tempatnya berada sekarang, Mineral Town. "Yah, memang sudah lama sekali." Jack kembali memandang lahan perkebunan kakeknya.
"Kau masih ingat saat kau liburan di sini dulu?" tanya Thomas.
"Ya, sangat jelas," jawab Jack pelan tanpa melepas pandangannya dari lahan perkebunan.
Dia ingat dengan sangat jelas kenangan saat berlibur diperkebunan kakeknya ini. Itu merupakan kenangan yang tak pernah ia lupakan. Terlalu indah untuk dilupakan.
Waktu itu orangtua Jack tidak dapat menemaninya untuk liburan sehingga menyuruh Jack untuk datang ke perkebunan kakeknya. Sebab orangtuanya itu terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Kakeknya tentu saja menyambut dengan senang hati menyambut kedatangan dirinya.
Banyak hal yang Jack lakukan selama liburan di perkebunan kakeknya itu. Dia pernah mencoba menaiki salah satu sapi kakeknya. Sewaktu menaikinya memang berhasil, tapi begitu sapinya jalan, dia malah terjatuh dengan wajah menghantam tanah. Itu sangat menyakitkan.
Dia juga pernah usil pada seekor ayam dengan menggangunya menggunakan ranting kecil. Akibatnya teman-teman si ayam datang dan mengejarnya. Tentu saja dia langsung lari terbirit-birit. Apalagi jumlah ayam yang mengejarnya itu sangat banyak. Jack jadi tertawa sendiri bila mengingat hal yang satu itu.
Terkadang dia pun bermain dengan anjing milik kakeknya atau sekedar melempar batu ke sungai. Dia juga sangat ingat saat kakeknya mengajarinya meunggangi kuda. Itu sangat menyenangkan dan membuatnya jadi tahu bagaimana cara menunggangi kuda.
Tapi, ada satu hal yang tidak dapat Jack lupakan sama sekali. Yaitu saat dia bertemu dengan seorang gadis kecil di Mother's Hill yang juga merupakan teman pertamanya di Mineral Town.
Saat itu dirinya pergi ke Mother's Hill hanya untuk berbaring-baring dan menikmati suasana alam di sana. Lalu, terdengar suara gadis kecil bersenandung. Gadis kecil itu menghampirinya. Jack langsung terbangun begitu melihat gadis kecil itu sudah ada di dekatnya.
"Kau sendirian?" tanya gadis kecil itu.
"Ya," jawab Jack. "Aku belum punya teman di sini."
"Aku juga suka bermain sendirian di sini," kata si gadis kecil. "Oh, hei... kau ini anak yang berlibur di perkebunan kakeknya itu, 'kan?" tanyanya tiba-tiba.
"Y,ya...," jawab Jack agak terbata. Dia tidak tahu bagaimana gadis kecil itu tahu tentang hal itu. Mungkin karena dia terlihat asing, pikirnya.
"Kalau begitu bisakah kau menceritakan tentang tempat tinggalmu dan juga tentang dirimu?" pinta si gadis kecil.
Jack tersenyum. Dengan senang hati dia pun menceritakan tentang tempat tinggalnya dan juga dirinya. Saat itu pula dia jadi berteman dengan si gadis kecil dan menjadi teman pertamanya di Mineral Town. Mereka sangat cepat akrab. Mereka juga bersenandung bersama di puncak Mother's Hill di sore harinya setelah saling bertukar cerita cukup lama. Itu merupakan kenangan yang sangat indah bagi Jack.
Sampai akhirnya tibalah bagi Jack untuk pulang karena waktu liburan yang telah usai. Sebenarnya dia tidak mau pulang. Tapi, apa boleh buat. Dia 'kan harus sekolah. Sebelum dia melangkah pergi, si gadis kecil itu datang.
"Kau mau pulang?" tanya si gadis kecil.
"Ya," jawab Jack, "aku harus sekolah."
"Kau akan datang lagi, 'kan?"
"Ya, aku pasti akan datang lagi. Aku janji."
"Ingat, kau telah berjanji."
-x-x-
Janji dengan gadis kecil itu benar-benar tertanam di ingatan Jack sampai sekarang. Padahal itu sudah 10 tahun berlalu. Sayangnya dia sama sekali tidak ingat nama gadis kecil itu. Padahal dia sudah berjanji untuk kembali. Sekarang dia sudah datang, tapi lupa pada nama teman kecilnya itu. Bagaimana dia bisa menemui gadis itu yang sekarang sudah besar seperti dirinya? Wajahnya pasti sudah berubah juga. Selain itu, apakah gadis itu masih ingat padanya? Jangan sampai sudah lupa karena terlalu lama.
Sebenarnya sudah lama dia ingin kembali ke Mineral Town ini. Apalagi setelah mendengar kabar kalau kakeknya telah meninggal. Tapi, banyak hal yang menghambatnya untuk datang. Akhirnya dia pun baru bisa datang sekarang setelah 10 tahun berlalu sejak kedatangannya yang sebelumnya itu.
"Jack," panggil Thomas.
Jack tersadar dari lamunannya dan segera menyahut panggilan Thomas. "Ya?"
"Kau bisa lihat perkebunan ini sudah lagi tidak diurus sejak kakekmu meninggal dan kini perkebunan ini diwariskan padamu," kata Thomas, berjalan ke samping Jack, lalu menatap Jack yang lebih tinggi darinya itu. "Bagaimana kalau kau mencoba mengolah perkebunan ini?"
Jack agak terkejut. "Mengolah?"
"Ya, aku dan warga sepakat bila kau bisa mengolah perkebunan ini dan mengembalikannya seperti semula dalam waktu 3 tahun, dan juga dapat berinteraksi dengan baik dengan warga setempat, maka kau boleh tinggal di sini dan menjadi pemilik tetap."
Jack termenung sejenak. Tidak ada salahnya mencoba. Lagipula dia juga ingin mencari teman masa kecilnya itu untuk membuktikan dirinya sudah menepati janjinya.
"Tapi," wajah Thomas menjadi serius, "bila kau gagal, maka kau harus meninggalkan tempat ini dan jangan pernah kembali. Kami bukan bermaksud menguji, tapi seperti itulah kesepakatan kami sebelum lahan perkebunan ini diwariskan padamu."
Jack kembali termenung. Besar juga resikonya, batinnya. Tempat ini punya banyak sekali kenangan indah. Sayang kalau tidak bisa kembali lagi. Apalagi kalau sampai dirinya belum sempat bertemu dengan teman kecilnya. Bisa-bisa dirinya akan dianggap berbohong. Dia pun membuat keputusan.
"Baiklah, akan kulakukan. Akan kukembalikan perkebunan ini seperti dulu, bahkan lebih baik lagi," ucap Jack semangat.
Thomas cuma mengangguk-angguk sambil tersenyum melihatnya. Melihat Jack yang penuh semangat.
Tiba-tiba terdengar suara gonggongan anak anjing. Jack dan Thomas terkejut mendengarnya. Lalu, dari jauh terlihat seekor anak anjing berbulu coklat berlari menghampiri mereka berdua. Anjing itu kemudian berhenti tepat di depan mereka dan duduk sambil menatap keduanya dengan mata imutnya. Dia terlihat sagat jinak.
"Anjing?" Jack cuma menatap heran anak anjing itu.
"Anjing yang lucu," ucap Thomas sambil mengelus kepala anak anjing itu. "Jack, bagaimana kalau kau pelihara dia? Kurasa dia bisa membantumu dalam berkebun nanti."
Jack menatap si anjing. Anjing itu mengingatkannya pada anjing milik kakeknya. Hanya saja yang ini masih kecil. Dia menengok ke belakang di mana ada kandang anjing tepat di samping kandang ternak. Karena anjing kakeknya itu juga sudah lama mati, kandang itu otomatis juga tidak terpakai lagi.
Dia kembali menatap si anjing dan berjongkok di depannya. Sambil tersenyum, Jack mengelus lembut kepala si anjing. "Kau terlihat aktif sekali, ya. Kurasa kau memang akan sangat membantuku dalam berkebun," ucapnya seraya mengeluarkan sehelai sapu tangan merah dari kantong celananya dan mengikatkannya di leher si anjing. "Jadi, mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan nama Brown."
Si anjing menggonggong senang.
"Oh, ya, Jack. Kapan kau akan mulai tinggal di sini?" tanya Thomas.
Jack berdiri dan menatap Thomas. "Hari ini," jawabnya dengan sangat yakin.
"Hari ini?" ulang Thomas, agak terkejut.
"Ya, lagipula rumah milik Kakek masih kokoh dan masih layak untuk ditempati walaupun mungkin agak kotor karena sudah lama tidak ditempati. Aku cuma tinggal membersihkannya saja."
Thomas tersenyum maklum. "Kau memang penuh semangat, ya," ujarnya. "Terserah kau saja. Tapi kurasa kalau kau mulai tinggal hari ini, berarti seharian ini kau akan sibuk membereskan rumahmu dulu, ya."
Jack nyengir. "Begitulah. Tapi, itu tidak masalah bagiku," ucapnya yakin.
Thomas melihat jam tangannya sebentar. "Oh, aku harus segera pergi. Ada hal yang harus kukerjakan di rumahku. Kurasa aku tidak dapat membantumu membereskan rumahmu."
"Tidak apa, Pak Walikota. Aku bisa mengerjakannya sendiri," sahut Jack.
"Maaf, ya. Kalau begitu aku permisi dulu," pamit Thomas. "Sampai jumpa, Jack. Semoga berhasil." Dia pun melangkah pergi.
"Sampai jumpa, Pak Walikota. Terima kasih banyak." Jack melambai.
Brown pun menggonggong melihat kepergian Thomas.
Jack berbalik, memandang kembali lahan perkebunan kakeknya. Ah, bukan. Lahan perkebunan miliknya. "Baiklah, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan lahan ini seperti dulu. Dan juga... mencari teman kecilku itu untuk membuktikan kalau aku telah menepati janjiku. Lihat saja, tempat ini akan jauh lebih baik lagi," ucapnya. "Semangat!" serunya sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
Brown kembali menggonggong melihat majikan barunya begitu semangat.
Chapter 2
title : Short Tour in Mineral Town
Jack membuka pintu dan keluar dari rumah. Dihirupnya udara pagi yang begitu menyegarkan. Kemarin memang sangat melelahkan karena membereskan rumah sendirian. Tapi, itu akan terbayar nantinya, 'kan.
Brown menggonggong kecil melihat majikannya sudah bangun. Jack pun melangkah ke kandang anjing miliknya itu. Dikeluarkannya makanan anjing dari tas punggungnya dan meletakkannya di mangkuk tempat makanan anjingnya. Brown langsung memakannya dengan lahap. Jack cuma bisa melihatnya sambil tersenyum dan mengelus pelan kepalanya.
"Pagi, Jack." Terdengar suara Thomas.
Jack menengok ke belakang dan melihat Thomas sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya. "Pagi, Pak Walikota," sapanya sambil berjalan menghampiri Thomas.
Thomas memandang rumah Jack. "Sudah terlihat bersih, ya. Kau melakukannya sendiri?"
"Ya, siapa lagi," jawab Jack. "Memang agak repot, tapi akhirnya bersih juga."
Thomas mengangguk-angguk.
"Oh, ya. Ada apa Anda datang kemari?" tanya Jack.
"Aku cuma ingin mengajakmu berkeliling Mineral Town," jawab Thomas. "Sebelumnya kau belum pernah melihat Mineral Town secara keseluruhan, 'kan? Apa kau mau?"
"Hmm... Ya, aku memang belum pernah melihat Mineral Town secara keseluruhan, apalagi sekarang sudah 10 tahun berlalu," sahut Jack. "Baiklah, aku mau."
"Baguslah... Mari kita pergi."
Jack dan Thomas pun mulai keluar dari Jack's Farm. Sebelum pergi, Brown diminta untuk tetap di kebun saja. Entah anak anjing itu mengerti atau tidak. Tapi, kelihatannya dia mengerti karena langsung pergi berlari keliling kebun seolah mengatakan dirinya akan tetap di kebun selama Jack pergi.
Thomas berhenti berjalan, diikuti oleh Jack, tepat di persimpangan jalan yang ada di samping perkebunan Jack. "Kalau kau melewati jalan ini kau akan menemukan Poultry Farm, tempat penjualan ayam beserta pakannya," jelasnya.
Lalu, mereka menuruni tangga dan berhenti di depan rumah pandai besi, Saibara Shop.
"Ini adalah tempat di mana kau bisa meng-upgrade peralatan pertanianmu atau meminta dibuatkan peralatan apapun yang menggunakan logam. Si pandai besi yang tinggal di sini begitu ahli dalam mengolah logam," jelas Thomas.
"Oh," sahut Jack. "Kebetulan peralatan milik kakekku sudah agak rusak. Kurasa aku akan memperbaikinya dulu di sini."
Mereka melanjutkan ke rumah yang ada di sebelah. Terdapat kebun anggur di samping rumah tersebut, tapi tidak ada anggurnya karena memang bukan musimnya.
"Ini kilang anggur, Aja Winery. Wine dan jus anggur di tempat ini merupakan yang paling bagus di sini. Saat panen anggur nanti biasanya suka dibutuhkan pekerja untuk membantu panen. Kau bisa ikut membantu bila kau mau," jelas Thomas.
Jack cuma mengangguk mengerti.
Selanjutnya mereka berjalan ke perumahan yang ada di persimpangan jalan. Ada beberapa rumah yang berjejer di sana.
"Ini adalah Perpustakaan," kata Thomas sambil menunjuk rumah kedua. "Di sini kau bisa menemukan banyak informasi tentang berkebun atau apapun yang kau ingin ketahui tentang Mineral Town lebih jauh. Semuanya ada di sini."
Jack mengangguk saja. Dilihatnya rumah yang pertama yang berdempetan dengan Perpustakaan. Kelihatannya itu adalah rumah si penjaga perpustakaan, pikirnya. Lalu, dia melihat rumah satu lagi yang bersebelahan dengan Perpustakaan. Menurutnya itu rumah penduduk lokal.
Mereka berdua lanjut lagi ke tempat berikut. Saat mereka melewati rumah ketiga, seorang nenek keluar dari rumah tersebut.
"Oh, Thomas. Selamat pagi," sapanya.
Jack dan Thomas berbalik.
"Oh, selamat pagi, Ellen," sapa Thomas.
"Apakah itu pemuda yang kau maksud akan mengolah perkebunan di sana itu?" tanya si nenek yang dipanggil Ellen itu.
"Ya, namanya adalah Jack," jawab Thomas. "Jack, perkenalkan, ini Ellen. Dulu dia adalah seorang perawat. Dia sekarang tinggal bersama cucunya," ucapnya pada Jack.
Jack membungkukkan badannya. "Senang bertemu dengan Anda, Nenek Ellen."
"Senang juga bertemu denganmu," sahut Ellen. "Kau pemuda yang sopan dan ramah, ya," pujinya.
"Ah, biasa saja," kata Jack tersipu malu sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Kami permisi dulu, ya, Ellen," pamit Thomas. "Masih ada beberapa tempat yang harus kami kunjungi dulu."
"Oh, begitu. Kalau begitu sampai jumpa lagi, Thomas dan ng... Jack."
Mendengar namanya agak lama disebut, Jack beranggapan kalau Ellen sudah pikun. Yah, namanya juga manula. Dirinya pun pasti akan begitu nantinya bila tua nanti. Tapi, semoga saja dia tidak menjadi orang yang pelupa saat ini.
Setelah pamitan dengan Ellen, Jack dan Thomas kembali berjalan ke rumah di sebelahnya.
"Ini adalah rumahku. Aku tinggal bersama anakku, Harris si polisi dan seorang fotografer, Kano. Bila kau butuh bantuan datang saja ke rumahku. Mungkin aku dapat membantumu," jelas Thomas.
"Tentu saja, Pak Walikota," sahut Jack.
Perjalanan terus dilanjutkan ke tempat berikut di dekat pertigaan jalan. Rumah selanjutnya terlihat cukup besar bila dibandingkan dengan rumah sebelumnya. Modelnya pun agak berbeda.
"Ini Supermarket, tempat di mana kau bisa membeli berbagai bibit untuk setiap musimnya. Di sini juga menjual beberapa keperluan lainnya," jelas Thomas.
"Ternyata Suermarket. Pantas terlihat beda," kata Jack.
Mereka kemudian berjalan ke rumah yang ada di sebelahnya lagi. Terdapat papan dengan tulisan yang cukup besar bertuliskan "Klinik". Sudah pasti tui tempat berobat.
"Kalau kau sakit, datang saja ke Klinik ini. Tapi, kuharap kau tidak terlalu memaksakan diri dalam bekerja," kata Thomas cemas.
"Ya, aku akan selalu menjaga kondisiku," sahut Jack.
"Kalau kau lurus saja, di sana ada gereja. Pasturnya agak aneh, tapi dia orang yang baik," kata Thomas sambil menunjuk.
Terlihat ada bangunan besar di sana. Tapi mendengar kalau pasturnya agak aneh, Jack jadi merasa tidak ada niat untuk ke sana.
"Ayo, lanjut lagi," ajak Thomas.
Mereka berdua kembali berjalan ke jalan persimpangan. Dari jauh saja terlihat bangunan yang sangat besar. Mungkin yang paling besar di antara semua bangunan yang ada di Mineral Town. Jack agak kagum melihatnya.
"Ini adalah tempat penginapan sekaligus restoran, Inn. Makanan di sini sangat enak. Banyak yang datang berkunjung untuk sekedar istirahat atau berkumpul. Aku juga sering datang ke sini," kata Thomas.
"Besar sekali," kagum Jack, memandang bangunan Inn.
Selanjutnya mereka mendatangi sebuah lapangan besar yang berada di tengah-tengah desa. Kelihatannya tempat itu adalah alun-alun.
"Ini Rose Square. Tempat ini biasanya digunakan untuk acara festival," kata Thomas.
Jack memandang alun-alun itu. Terdapat pola melingkar seperti mawar pada lantainya. Pantas diberi nama "Rose Square".
"Bila kau lurus, kau akan menemukan pantai. Kalau ke kanan kau akan menemukan Yodel Ranch, tempat jual ternak. Bila ke kiri kau bisa langsung menemukan gereja," lanjut Thomas. "Kurasa segini saja yang bisa kujelaskan padamu. Mari kita kembali," ajaknya.
Jack danThomas lalu berjalan kembali ke Jack's Farm.
"Oh, ya. Pak Walikota, aku ingin tanya. Kenapa desa ini disebut Mineral Town?" tanya Jack. "'Town' itu 'kan berarti kota."
"Biarpun ini adalah sebuah desa, tapi rasa kekeluargaan di sini terasa sebanyak orang-orang di kota. Itu sebabnya desa ini diberi nama Mineral Town. Jadi, Bukan cuma alam yang begitu kaya yang terdapat di sini, tapi juga rasa kekeluargaan yang begitu besar di sini."
"Begitu...," sahut Jack mengerti. "Aku bisa merasakannya."
Brown masih terlihat sibuk berlari-lari mengejar kupu-kupu saat mereka tba.
"Berkelilinglah bila kau ada waktu, Jack," pesan Thomas. "Oh, aku sampai lupa. Di gunung ada Gotz si tukang kayu. Bila kau membutuhkan bantuannya untuk memperbaiki rumah atau kandangmu, datang saja padanya."
"Aku mengerti," sahut Jack.
"Kalau begitu aku permisi dulu. Semoga kau betah di sini. Sampai jumpa." Thomas kemudian berjalan pergi.
"Sampai jumpa," sahut Jack sambil melambaikan tangan.
Jack tidak menyangka kalau Mineral Town ternyata cukup luas juga. Habis sebelumnya dia cuma bermain di sekitar kebun kakeknya dan juga di gunung.
Setelah Thomas tidak lagi terlihat, Jack berniat masuk ke rumahnya. Tapi, seorang pria berbadan besar datang. Wajahnya agak terlihat garang.
"Hai," sapa pria itu.
"Hai juga," sapa Jack, agak terkejut dengan kedatangannya.
"Perkenalkan, aku Zack si pembeli. Aku yang akan membeli semua hasil kebunmu untuk dijual di kota. Aku tinggal di pantai," ujarnya, memperkenalkan diri. "Kau lihat kotak yang di sana itu," dia menunjuk kotak yang ada di samping rumah Jack. "Letakkan saja barang daganganmu di sana. Setiap jam 5 sore nanti aku akan datang memeriksanya dan membayarmu sesuai dengan harga setiap barang yang kau letakkan di sana. Tapi, aku tidak akan datang di hari minggu dan saat festival karena aku juga butuh istirahat. Hahaha..." Zack terdengar sedang bercanda. Ternyata dia juga punya selera humor. Tapi, kemudian wajahnya kembali normal. "Ha... baiklah, cuma itu yang ingin kukatakan padamu. Sampai jumpa." Dia pun berjalan pergi.
"Ya... sampai jumpa," sahut Jack masih dengan wajah cengo karena melihat kedatangan Zack itu. "Orang-orang di sini bermacam-macam, ya," gumamnya. "Tapi, ini belum semuanya kutemui. Bagaimana yang lainnya, ya?"
Welcome to My Fic! \(^O^)/
Terima kasih banyak bagi yang membaca fic-ku, baik yang juga mereview atau pun tidak. Terutama Domia Ryuugen Chelymystery karena telah repot-repot mereview. Terima kasih atas pujiannya ^^. Sebenarnya aku tidak berharap ceritaku direview. Yang penting ceritaku disukai.
Karena aku masih amatir, makanya fic ini terlihat kurang menarik. Maaf, ya, bila ceritanya memang terasa benar-benar mengikuti jalan cerita di game-nya. Karena prinsipnya memang begitu. Tapi, tidak semua event-nya sama, kok, dengan di game. Ada yang sedikit diubah. Cuma dikit. Hehe...
Biarpun chap awal dan yang ini pendek, tapi chap berikutnya cukup panjang (menurutku).
Chapter 3
Title : Gray The Blacksmith & Mary The Librarian
Sambil membawa cangkul yang sudah karatan, Jack pergi ke Saibara Shop untuk memerbaikinya sekalian berkunjung ke tempat itu untuk menyapa pemiliknya. Dia mengetuk pelan pintu, lalu masuk sambil menyapa, "Selamat siang... Aku ingin memperbaiki cangkulku."
"Oh, selamat datang... Silahkan...," sambut seorang kakek yang bisa dibilang sedikit lebih tinggi dari Thomas. Memiliki rambut panjang yang sudah beruban dan botak di tengah kepalanya. Dia sedang berdiri di belakang sebuah panci besar berisi batu bara.
Ternyata kakek itu tidak sendirian. Ada seorang pemuda yang sebaya dengan Jack juga di situ. Memakai baju kelabu dan memakai topi bertuliskan "UMA". Wajahnya terlihat kesal dan dingin. Dia sama sekali tidak mempedulikan kedatangan Jack. Dia juga terlihat sedang membuat sesuatu di alat pemanggang yang berada di samping panci besar. Jack cuma menatap heran padanya.
"Jangan pedulikan dia. Dia memang begitu," kata si kakek yang kayaknya adalah seorang pandai besi.
Cuek sekali, batin Jack.
"Kau terlihat asing, Nak. Apakah kau orang baru di sini?" tanya si kakek.
"Oh, ya," jawab Jack. "Namaku Jack. Aku baru pindah kemarin di perkebunan kakekku," jelasnya.
"Perkebunan? Oh, rupanya kau si pewaris itu. Aku Saibara, pandai besi di sini," ucapnya memperkenalkan diri. "Yang di sana itu cucuku sekaligus muridku, Gray. Dia sangat payah dalam mengolah logam," lanjutnya memperkenalkan pemuda bertopi UMA itu yang terdengar lebih menyindir dibanding memperkenalkan. Kelihatannya disengaja.
"Jack, tadi apa keperluanmu datang ke sini?" tanya Saibara.
"Ini..." Jack memperlihatkan cangkul tua milik kakeknya. "Aku ingin memperbaikinya. Sudah terlihat cukup rusak dan karatan karena sudah lama tidak dipakai."
Saibara berjalan menghampiri Jack dan memperhatikan cangkul yang dibawa pemuda itu. "Parah sekali. Baiklah, aku akan memperbaikinya. Biayanya 1000 G dan membutuhkan waktu 3 hari. Bagaimana?"
"Baiklah. Tolong, ya," sahut Jack sambil menyerahkan cangkulnya dan memberikan uang pada Saibara.
Saibara berdehem. "Pergilah. Sekarang aku akan mulai bekerja," ujarnya yang terdengar seperti mengusir.
Tanpa basa-basi Jack langsung barjalan keluar. Lalu, pintu ditutup dengan kerasnya dan dikunci. Kayaknya Saibara tidak mau ada orang yang melihat cara kerjanya.
Jack cuma bengong melihatnya. Lalu dia berjalan meninggalkan Saibara Shop.
Baru beberapa langkah ia berjalan, terdengar suara pintu dibuka. Jack berbalik dan melihat Gray keluar dari Saibara Shop. Wajahnya masih tetap seperti tadi. Ditutupnya pintu dan berjalan begitu saja melewati Jack.
"Hei, Gray," sapa Jack. "Mau ke mana?" tanyanya.
Gray berhenti melangkah. "Bukan urusanmu," jawabnya dingin dan tanpa menoleh sama sekali. Kemudian dia kembali berjalan pergi.
Jack berlari menyusulnya. Dia ingin sekedar berbincang-bincang dengan pemuda itu supaya akrab saja. "Tadi, Kakek Saibara bilang kau itu cucu sekaligus muridnya. Itu berarti kau seorang pandai besi juga, 'kan?"
Gray tidak menjawab. Matanya terus menatap lurus ke depan.
"Kakek Saibara memang terlihat galak padamu tadi, tapi kurasa dia punya maksud baik di balik semua itu," sambung Jack.
Gray berhenti melangkah dan langsung menghadap Jack dengan sorot mata yang tajam. Jack jadi ikutan berhenti, tapi dengan wajah kaget dan agak takut pada sorotan matanya itu.
"Kau tau apa tentang Kakek! Kau belum mengenalnya. Dia itu pemarah dan kerjanya cuma membentakku saja. Semua pekerjaanku tidak dihargainya sama sekali. Kau pikir itu baik!" bentak Gray.
Jack agak termundur. "Jangan berprasangka buruk dulu, 'kan? Aku yakin dia sebenarnya tidak bermaksud galak padamu. Mungkin kegalakannya itu cuma kebiasaannya saja. Dia pasti sebenarnya baik."
"Sudah kubilang kau belum megenalnya!" Gray berbalik. "Pergilah dan jangan mengikutiku lagi!" Dia kembali melangkah pergi.
Jack cuma memandang kepergiannya yang melangkah pergi dengan cepat. Seolah menuruti perkataan Gray, Jack tidak lagi mengikutinya. Menurutnya Gray saat ini memang butuh sendirian untuk menenangkan diri.
Jack menghela nafas. "Sekarang apa yang harus kulakukan, ya?" gumamnya.
Secara tidak sengaja dia melihat Perpustakaan yang sudah tidak jauh di depannya. Dia pun berpikir ke sana saja untuk mencari tahu tentang tanaman apa yang bisa ditanam di musim semi saat ini. Jujur saja dia belum tahu apa-apa tentang bertani dan cara menanam bibit yang benar. Perpustakaan memang tempat yang tepat saat ini.
Jack berjalan menuju Perpustakaan dan membuka pintu. Terdengar bunyi bel yang menandakan kedatangannya.
"Selamat datang," sambut seorang gadis berkacamata yang berdiri di balik meja resepsionis. "Hei, kau terlihat asing," ujarnya.
"Ya, aku baru pindah kemarin ke sini," kata Jack.
"Oh, kau itu Jack, ya, yang mewarisi perkebunan itu?"
"Ya... begitulah," jawab Jack terkejut. Dia tidak menyangka kalau kabar kedatangan dirinya itu sudah diketahui gadis itu yang baru pertama kali ditemuinya. Bahkan namanya juga. Cepat sekali tersebarnya.
Jack memandang gadis perpustakaan itu. Selain berkacamata, dia juga memiliki rambut hitam panjang yang dikepang. Berpakaian sederhana dan dandanannya biasa saja. Benar-benar ciri khas seorang kutu buku yang menjaga perpustakaan.
Jack jadi kepikiran sesuatu. Teman masa kecilnya itu memiliki rambut berwarna apa,ya? Dia lupa juga tentang itu. Dia juga tidak ingat apakah temannya itu suka membaca. Tapi, gadis di hadapannya saat ini tidak nampak mengenal dirinya sudah lama. Seperti baru kenal.
Mungkin bukan dia, pikirnya.
"Perkenalkan, aku Mary, penjaga perpustakaan," kata si gadis memperkenalkan diri. "Kau boleh datang kapan saja selama jam buka," lanjutnya. "Lalu, ada keperluan apa kau datang ke sini?"
"Ng... aku ingin mencari buku tentang bibit tanaman. Ada di sebelah mana, ya?"
"Di rak nomor 3."
"Terima kasih." Jack kemudian berjalan menuju rak buku yang dimaksud di antara banyak rak yang ada. Ada juga buku di lantai 2. Dia melihat mana buku yang pas dengan apa yang dicarinya. Setelah itu dia mengambil salah satu buku yang menurutnya pas, lalu berjalan menuju salah satu tempat duduk yang telah tersedia dan duduk, lalu mulai membaca.
Dia memperhatikan sebentar suasana Perpustakaan. Begitu sepi dan tenang. Dia juga baru menyadari kalau cuma dirinya dan Mary yang ada di situ.
Terlihat Mary berjalan dan duduk di bangku yang ada di seberang. Dia kemudian mulai menulis di buku yang dibawanya.
"Mary," panggil Jack.
"Ya?" sahut Mary, menghentikan aktifitasnya dan menatap Jack.
"Apakah sebelumnya cuma kau yang selalu berada di sini?" tanya Jack yang merasa Perpustakaan terlalu sepi karena cuma berdua saja.
"Tidak juga," jawab Mary. "Ayahku terkadang datang untuk membaca kembali buku karangannya. Sekedar mengoreksi. Atau menambah buku baru tentang alam yang sangat disukainya. Kebanyakan buku tentang alam di sekitar sini yang ditambahkan."
"Cuma ayahmu saja?" tanya Jack lagi.
"Tidak, ada seorang lagi."
"Siapa?"
"Gray."
Jack terkejut. "Gray?"
"Ya, bila ada waktu, dia datang kemari. Dialah yang paling sering kemari."
Jack benar-benar tidak menyangka kalau Gray yang begitu cuek itu suka datang ke Perpustakaan. Tapi kalau dilihat dari sikapnya yang kayaknya suka menyendiri, Perpustakaan memang cocok untuknya. Sepi dan sangat tenang.
"Ngomong-ngomgong soal Gray," Jack mulai kembali bicara, "apa pendapatmu tentang dia?"
Mary meletakkan alat tulisnya. "Gray memang orangnya cuek, pendiam, dan penyendiri. Tapi, menurutku dia itu cuma tidak mau membuka diri dengan orang lain. Dia selalu beranggapan dengan diam dan menjauhkan diri dari orang lain maka itu akan menyelesaikan masalahnya dan membuatnya tidak terlibat dengan masalah lain. Sehingga pada akhirnya dia merasa sendirian. Tapi, aku yakin kalau dia mau membuka diri dia pasti tidak akan merasa sendirian lagi."
"Begitu...," sahut Jack. "Aku juga beranggapan begitu tentang dirinya. Tadi sebelum aku kemari, aku ke Saibara Shop dan bertemu dengannya. Dia memang terlihat tidak ingin berhubungan dengan orang lain terutama orang asing sepertiku. Kelihatannya dia memang perlu diberitahu tentang hal itu. Dia harus mau berinteraksi dengan orang lain. Walaupun cuma sekedar curhat mengenai masalahnya. Kita pasti akan membantunya, 'kan?"
Mary tercengang sejenak, lalu tersenyum. "Ya, kau benar."
"Lalu..." Jack melihat buku yang tadi ditulis Mary, "apa yang sedang kau tulis itu?" tanyanya penasaran.
Cepat-cepat Mary menutup bukunya dengan wajah memerah. "Ah, bukan apa-apa. Ini cuma hobi. Aku cuma sedang mencoba menulis sebuah novel."
"Novel? Kelihatannya bagus. Boleh aku membacanya?"
"I, ini belum selesai. Aku baru mulai," ujar Mary agak gagap.
"Yah..." Jack merasa kecewa. "Kalau begitu pinjamkan aku kalau sudah selesai, ya," pintanya.
"Y,ya..." sahut Mary sambil mengangguk pelan. Tapi, wajahnya terlihat tidak yakin.
-x-x-
Setelah dari Perpustakaan, Jack tidak tahu lagi mau ngapain. Dia cuma sekedar berjalan tanpa tahu tujuan. Dia belum bisa memulai pekerjaannya di perkebunannya karena dia baru tahu cara bertani setelah membaca buku di Perpustakaan tadi. Kalau mau membeli bibit juga Supermarket sudah tutup. Sekarang 'kan sudah jam 5 sore. Sedangkan Supermarket tutup jam 4 sore. Dia terlalu lama berada di Perpustakaan tadi.
Jack jadi terbayang tingkah Mary saat dirinya menanyakan tentang novel yang ditulisnya itu. Jack jadi sangat penasaran dengan apa yang ditulisnya. Sepertinya sesuatu yang belum boleh diketahui orang lain atau dia masih malu untuk memperlihatkan tulisannya. Jack sangat tidak sabar untuk membacanya.
Tanpa disadari Jack sudah tiba di Rose Square. Langkahnya terhenti saat melihat ada 2 orang yang berdiri saling memunggungi di tengah alun-alun itu. Dia terkejut saat menyadari kalau mereka adalah Gray dan Mary.
"Sedang apa mereka?" gumamnya.
Biarpun jauh, Jack masih bisa mendengar percakapan mereka berdua.
"Kau tahu, dulu aku juga pernah merasa sendirian saat pertama kali datang ke sini," kata Mary. "Tapi, penduduk di sini begitu ramah sehingga aku yang pemalu ini bisa berinteraksi dengan baik dengan mereka dan akhirnya aku jadi punya teman di sini."
Gray cuma diam mendengarkan.
"Aku tahu kau suka menyendiri, tapi tidak salahnya bila kau mencoba berinteraksi dengan penduduk. Kau pasti tidak akan merasa kesepian lagi. Dan bila ada masalah, kau akan langsung dibantu."
"Biarpun begitu," Gray membuka suara, "Kakek tetap saja tidak akan menghargai usahaku selama di sini. Aku jadi tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk membuatnya menghargai usahaku."
"Kalau begitu berusahalah. Kau jangan menyerah," kata Mary menyemangati. "Kakek Saibara memang orangnya keras. Tidak mudah untuk membuatnya mengakui usaha seseorang. Tapi, kalau kau berusaha, beliau pasti akan menghargainya biarpun tidak memperlihatkannya. Kakek Saibara 'kan memang begitu."
Gray kembali terdiam. Matanya menerawang. Kelihatannya dia merenungkan kata-kata Mary.
"Kunci supaya Kakek Saibara menghargai usahamu cuma satu, yaitu jangan menyerah. Kakek Saibara paling suka orang yang mau berusaha keras," sambung Mary.
Gray semakin terdiam.
"Cobalah dulu. Itu pasti berhasil. Kalau ada kesulitan atau masalah, jangan sungkan meminta bantuan orang lain. Itu akan sangat membantumu."
Wajah Gray menunduk. Sepertinya dia sadar kalau selama ini tindakannya salah.
"Aku permisi dulu. Aku harus pulang," pamit Mary, tapi Gray tetap tidak menanggapi. "Semoga berhasil, ya." Setelah itu Mary pun pergi meninggalkan Gray.
Jack yang melihatnya tersenyum. Rupanya Mary-lah yang akan menyadarkan Gray tentang pentingnya berinteraksi dengan orang lain. Lagipula memang kelihatannya cuma Mary yang paling dekat dengan Gray. Jadi cuma dia yang bisa memberitahukan dengan baik pada Gray.
Perlahan Jack berjalan menghampiri Gray yang masih mematung di tempat. "Gray," panggilnya.
Gray mengangkat wajahnya. "Ternyata aku telah salah," gumamnya. "Sepertinya sudah terlambat untuk memperbaiki."
"Tidak ada kata terlambat, Gray," kata Jack yakin. "Kalau kau berusaha, semua pasti akan jadi lebih baik. Kau hanya perlu berniat ingin berubah dan berusaha melakukannya. Kau pasti bisa. Aku pun juga akan berusaha untuk mengembalikan perkebunan kakekku seperti dulu lagi."
Gray tersenyum miris. "Begitu, ya. Berusaha..."
"Dan jangan menyerah," sambung Jack, tersenyum.
Gray menatap Jack. "Baiklah, aku akan melakukannya," ucapnya yakin.
"Begitu, dong...," ucap Jack sambil menepuk pelan pundak Gray. "Kalau ada masalah, katakan saja. Aku pasti akan membantu. Kita 'kan teman."
Gray tertawa pelan. "Ya, mohon bantuannya, ya... Jack."
Mereka berdua pun tertawa bersama di bawah langit sore yang begitu indah.
-x-x-
Setelah membersihkan hampir setengah dari ladang yang kotor dari pagi, Jack menuju ke Perpustakaan lagi. Ada hal yang ia lupakan soal cara bertani. Kebetulan pekerjaannya selesai tepat saat Perpustakaan sudah buka. Saat dia masuk, dia melihat Gray ada di Perpustakaan juga.
Sedang apa pagi-pagi Gray ke sini? batin Jack.
Gray sedang bersama Mary. Terlihat Mary memberikan sebuah buku padanya. Jack merasa pernah melihat buku itu.
"Cobalah baca. Kurasa buku ini akan sangat menarik bagimu," kata Mary sambil menyerahkan buku tersebut.
Gray menerima buku itu. "Tentu, aku akan membacanya," ucapnya sambil tersenyum.
Mary terlihat sangat senang. Kelihatannya hubungan mereka jadi semakin lebih baik setelah pembicaraan kemarin.
Jack baru sadar kalau buku yang Mary berikan pada Gray itu adalah buku yang ia tulis kemarin. Sekarang Jack baru sadar kalau sebenarnya Mary ingin memperlihatkannya pada Gray terlebih dahulu. Makanya kemarin gadis itu menolak memperlihatkannya padanya.
Akhirnya Mary dan Gray menyadari kehadiran Jack yang sejak tadi diam memandang mereka berdua. Mereka hampir salah tingkah karena terkejut melihat kehadiran Jack yang seperti hantu bagi mereka. Tanpa disadari sudah ada di Perpustakaan. Jack cuma nyengir sambil berjalan menghampiri mereka.
"Hayoo, lagi apa berduaan di sini?" godanya.
"A, aku cuma... mau meminjam buku," jawab Gray terbata-bata dengan wajah memerah. Begitu juga Mary. "Jangan berpikiran yang tidak-tidak,ya," ujarnya dengan nada mengancam.
"Oh... begitu...," sahut Jack dengan nada tetap menggodanya. "Meminjam atau dipinjamkan, ya? Kalau tidak salah itu buku yang kau tulis kemarin, 'kan, Mary?" tanyanya sambil melirik Mary yang wajahnya semakin memerah sampai ke kuping.
Akhirnya Gray jadi geram dan mengejar Jack mengelilingi perpustakaan. Mary mencoba menenangkan, tapi tidak dihiraukan. Apalagi Jack semakin menjadi-jadi. Kejar-kejaran pun tidak dapat dihentikan. Padahal itu di perpustakaan. Tidak boleh ribut. Ada-ada saja si Jack.
chapter 4
Title : In Supermarket, In Clinic, and Ahead Ellen's House
Menggoda Gray dan Mary memang cukup menyenangkan bagi Jack. Tapi kalau sudah terkena jitakan dari Gray, itu lain lagi ceritanya. Yang pasti sangat menyakitkan.
"Pukulan Gray keras juga," keluh Jack sambil mengelus kepalanya yang terkena jitakan Gray itu. "Dia seorang pandai besi, sih... Wajar saja pukulannya begitu kuat."
Tak lama kemudian Jack tiba di depan Supermarket. Dia terdiam sejenak untuk memikirkan apa yang akan dia lakukan di tempat itu. Dia belum bisa mulai bercocok tanam karena cangkulnya masih diperbaiki. Tapi, dia pikir lebih baik beli saja bibitnya dulu. Kalau cangkulnya sudah jadi, tinggal tanam saja. Lagipula sebagian lahan sudah dibersihkan. Kemudian Jack pun melangkah memasuki Suermarket.
Terdengar bunyi bel saat Jack membuka pintu. Namun, dia malah disambut dengan pemandangan yang dirasa kurang menyenangkan. Terlihat seoranga pria berpenampilan dokter sedang berbicara dengan pria yang menjaga kasir. Kelihatannya pria itu dokter di Klinik, pikir Jack.
"Masukkan total belanjaanku dalam daftar tagihanku," kata si dokter.
Pria penjaga kasir terlihat murung. "Oh, ya... baiklah," jawabnya lemas sambil mengambil sebuah buku dan menulis barang-barang yang dihutangkan.
Kemudian dokter itu keuar, melewati Jack begitu saja yang terdiam di dekat pintu. Setelah dokter itu keluar, seorang wanita paruh baya keluar dari pintu yang ada di samping kasir. Dia terlihat marah.
"Jeff, lagi-lagi kau membiarkan orang berhutang," bentaknya, tapi pria yang dipanggil Jeff itu tetap cuma diam murung. "Kalau begitu biar aku yang menagih belanjaannya." Wanita itu kemudian berjalan keluar dan melewati lagi Jack begitu saja.
Tak lama kemudian seorang pria paruh baya berbaju ungu dengan rambut yang sudah mulai beruban, datang. Dia langsung mengambil salah satu barang dagangan. "Jeff, tambahkan ini di daftar tagihanku, ya," ucapnya.
"Ya, baik...," sahut Jeff lesu, kembali menulis daftar tagihan pria tersebut.
Jack merasa kesal. Masa semuanya berhutang pada Jeff. Kasihan 'kan dia. Bisa-bisa dia merugi kalau begitu.
Pria yang tadi berhutang kemudian berbalik hendak melangkah pergi, namun Jack menghalangi jalannya.
"Hei, ada apa? Ada yang salah?" tanyanya yang heran pada Jack yang menghalangi jalannya.
"Tolong bayar apa yang Anda ambil itu," kata Jack tegas.
Pria itu malah tertawa pelan. "Tenang saja. Tidak apa, kok," ucapnya enteng.
Jack semakin merasa kesal melihat ulahnya.
Seorang gadis berambut coklar panjang tiba-tiba keluar dari pintu di samping meja kasir, tempat di mana wanita yang keluar tadi juga muncul. Gadis itu langsung menatap tajam pada pria yang ada di hadapan Jack itu.
"Duke, kalau kau membeli sesuatu, kau harus bayar," kata gadis itu tegas.
"Ba,baiklah... Aku tidak bisa lari," kata pria yang ternyata bernama Duke itu.
Jack agak tertegun melihat ketegasan gadis itu.
Si gadis berambut coklat itu kemudian berjalan menghampiri Duke dan mengambil uang pembayarannya. Setelah itu Duke langsung pergi. Dia tidak mau mencari masalah lagi. Si gadis kemudian menghampiri Jack.
"Terima kasih, ya, atas bantuanmu tadi," kata gadis itu, tersenyum.
"Sama-sama," sahut Jack. "Aku memang tidak suka melihat orang yang membeli sesuatu, tapi menunda pembayarannya. Aku saja tidak pernah seperti itu. Aku lebih memilih menunda belanja dibanding menunda pembayaran."
Si gadis terkekeh pelan. "Begitu, ya," sahutnya. "Oh, aku belum pernah melihatmu sebelumnya."
"Ya, aku baru pindah," jelas Jack.
"Ah, aku tahu. Kau si pewaris itu, 'kan? Kalau tidak salah namamu Jack, 'kan?" tebak si gadis.
"Ya," jawab Jack. Dia sudah tidak lagi terkejut mengenai hal itu.
"Aku Karen. Salam kenal, ya, Jack," ucap si gadis memperkenalkan diri. "Oh,ya. Yang di meja kasir itu ayahku, Jeff. Ayahku sangat pasif sehingga apa pun yang dikatakan orang, dituruti saja. Seperti saat Trent dan Duke berhutang tadi."
"Trent?" Jack belum tahu siapa itu.
"Kau belum tahu, ya. Dia itu dokter di Klinik di sebelah, yang tadi berpakaian ala dokter itu," jelas Karen.
Jack mengangguk mengerti. Dia ingat orang itu yang tadi sempat berpapasan dengannya. Jack sempat melihat wajahnya. Begitu dingin dan kaku. Benar-benar tidak berekspresi sedikit pun.
"Kau juga tadi sudah bertemu ibuku, Sasha, yang tadi keluar sebelum aku, 'kan?"
Jack mengingat-ingat kembali. Tadi memang ada wanita yang keluar terlebih dahulu. Rupanya itu ibunya Karen, batin Jack. Mirip sekali dengan Karen. Tegas.
"Lalu, kau ada keperluan apa ke sini?" tanya Karen tiba-tiba.
"Sampai lupa!" seru Jack, memukul dahinya. Dia benar-benar lupa pada tujuan awalnya datang ke Supermarket. "Aku ingin membeli bibit mentimun, kentang, dan lobak. Masing-masing 5."
"Kalau begitu tunggu sebentar. Aku ambilkan dulu," kata Karen, berjalan ke meja yang ada di tengah ruangan yang terdapat berbagai bungkusan.
Jack memperhatikan penampilan Karen. Gadis itu memakai baju singlet putih dengan rompi berwarna ungu, celana jins pendek biru, dan sepatu sport coklat. Kalau dilihat dari sikapnya tadi, bisa dibilang dia itu tegas dan dewasa. Sama sekali berbeda dengan Mary yang kutu buku itu. Tapi, Jack tidak merasa teman kecilnya itu memiliki sikap seperti Karen. Gaya berpakaiannya saja berbeda. Sikapnya apalagi. Ditambah lagi gadis itu juga tidak terlihat seperti pernah mengenal dirinya. Sama seperti Mary.
Kayaknya bukan Karen juga, pikir Jack.
Tak lama kemudian Karen kembali sambil membawa beberapa kantong. "Ini bibitnya. Semuanya jadi 1000 G," ujarnya sambil menyerahkan kantong bibit pada Jack. "Ada lagi?"
Jack menerimanya, lalu ia bayar sesuai harga yang tadi disebutkan. "Untuk saat ini cuma bibit saja yang ingin kubeli," jawabnya.
"Kalau ada keperluan yang ingin dibeli, datang saja," kata Karen sambil tersenyum.
"Tentu," sahut Jack, sambil memasukkan kantong bibit di tasnya. "Kalau begitu aku permisi dulu. Kalau ada waktu aku akan ke sini lagi," pamitnya sambil berjalan keluar.
"Hati-hati di jalan."
Jack mulai melangkah meninggalkan Supermarket. Dia berjalan melewati Klinik. Langkahnya berhenti saat melihat ibunya Karen, Sasha, keluar dari Klinik.
"Lain kali kalau mau membeli, langsung bayar, ya," kata Sasha agak membentak. Lalu, ditutupnya dengan kasar pintu Klinik. Masih terlihat dia mengumpat-umpat sendiri saat mulai melangkah meninggalkan Klinik. Namun, dia berhenti dengan wajah terkejut saat melihat Jack ada di depan Klinik juga.
"Oh, hai, Nak," sapanya.
"Hai, Bibi Sasha," sapa Jack ramah.
"Kau tahu namaku?" tanya Sasha heran karena dia belum pernah memberitahu namanya pada Jack.
"Ya, aku tahu dari putri Anda, Karen, saat di Supermarket tadi," jawab Jack.
"Oh, ya... Aku ingat tadi kau ada di sana. Maaf, ya, tidak menyapamu tadi."
"Tidak apa-apa, kok."
"Lalu... siapa namamu, Nak? Kau sepertinya orang baru di sini."
"Namaku Jack. Aku tinggal di perkebunan milik kakekku dulu."
Sasha terlihat terkejut. "Oh... rupanya kau, ya, pemuda itu. Kau jauh terlihat lebih muda dari yang kubayangkan. Aku harap kau bisa mengembalikan perkebunan itu seperti dulu lagi."
"Ya, akan kuusahakan," sahut Jack yakin.
Sasha tertawa pelan. "Baguslah... Rasanya aku jadi ingin memiliki anak sepertimu, Jack. Penuh semangat."
Jack tersentak. "Maksud Bibi?"
"Ah, sudahlah. Lupakan saja," ujar Sasha cepat. "Sering-seringlah berkunjung ke Supermarket. Kami akan dengan senang hati menyambut kedatanganmu."
"Y,ya... tentu," sahut Jack masih agak shock dengan ucapan Sasha tadi.
"Kalau begitu aku permisi dulu," pamit Sasha. "Sampai jumpa lagi, Jack." Dia pun berjalan pergi.
"Ya, sampai jumpa, Bibi," sahut Jack.
Setelah melihat Sasha masuk ke dalam Supermarket, Jack langsung menghela nafas lega. "Ucapan Bibi Sasha tadi membuatku kaget saja," gumamnya.
Dilihatnya bangunan Klinik yang bertingkat yang ada di hadapannya. Dia jadi penasaran bagaimana bagian dalamnya. Kemudian Jack pun masuk ke dalam Klinik. Aroma obat-obatan langsung tercium oleh hidungnya.
"Selamat datang. Ada yang bisa kubantu?" sapa seorang gadis berambut coklat pendek dengan pakaian perawat yang kebetulan sedang berdiri di tengah ruangan sambil membawa buku catatan.
"Aku cuma berkunjung saja. Aku orang baru di sini," jelas Jack.
"Orang baru? Jangan-jangan kau ini Jack, ya?" duga gadis itu.
"Ya, aku Jack," jawab Jack.
"Aku Elli. Salam kenal, ya, Jack."
"Salam kenal juga, Elli."
Kemudian seorang pemuda berpakaian dokter muncul dari balik tirai putih yang membagi ruangan. Jack langsung tahu kalau itu Trent yang ia lihat di Supermarket tadi.
"Ada siapa, Elli?" tanyanya. Tapi, pertanyaannya langsung terjawab begitu melihat Jack. "Kau... Sepertinya aku pernah melihatmu."
"Ya, tadi kita sempat berpapasan di Supermarket," jawab Jack. "Namaku Jack," ucapnya memperkenalkan diri.
"Aku Trent, dokter di sini. Tapi, kau boleh memanggilku dengan sebutan 'Dokter'," kata Trent memperkenalkan diri walaupun sebenarnya Jack sudah tahu siapa dia. "Kau tidak terlihat sakit. Kenapa datang kemari?" tanyanya.
"Cuma berkunjung. Sekalian berkenalan dengan penduduk," jelas Jack.
"Oh, begitu. Kalau kau perlu bantuanku, aku ada di ruanganku." Trent langsung kembali ke balik tirai.
Dingin sekali. Lebih parah dari Gray, pikir Jack.
"Maaf, ya. Dokter memang begitu," ujar Elli yang melihat wajah Jack yang terlihat tidak nyaman dengan sikap Trent.
"Ah, tidak apa-apa. Kurasa itu memang sikapnya," ujar Jack, jadi merasa tidak enak karena berpikiran buruk.
"Hei, sepertinya kau terluka," kata Elli tiba-tiba sambil menunjuk lengan kiri Jack.
Jack melihat lengannya yang ditunjuk. Terlihat ada goresan kecil seperti tersayat. Kayaknya lukanya itu didapat saat membersihkan kebun tadi pagi. Kalau tidak salah ingat sabitnya sempat terlepas dari tangannya dan mengenai tangannya. Tapi, dia sama sekali tidak sadar kalau terluka. Perih pun tidak.
"Apa terasa sakit?" tanya Elli dengan wajah cemas.
Entah kenapa sifat bercanda Jack keluar lagi. "Ya, sakit sekali," jawab Jack yang sebenarnya bohong besar. Wajahnya pun dibuat terlihat kesakitan, tapi terlihat pula cuma bercanda.
Wajah Elli langsung cemberut. "Kau itu laki-laki! Jangan merengek begitu hanya karena luka kecil seperti itu!" bentaknya.
Jack cuma tersentak kaget melihat respon yang didapat. Kelihatannya Elli bukan orang yang suka diajak bercanda. Jelas-jelas Jack memasang wajah kesakitan yang cuma bercanda. Tapi, reaksi Elli seperti menganggap dirinya betulan merasa sakit.
Elli kemudian mengeluarkan sebuah plester kecil dari sakunya. "Nih, plester saja. Nanti juga sembuh," ucapnya sambil memberikan plester tersebut pada Jack dengan kasar. Lalu dia berjalan menuju mejanya.
Jack cuma terdiam melihatnya. Terlihat jelas Elli begitu marah padanya.
"Ng... aku permisi dulu. Aku mau mengunjungi tempat lain," pamitnya dan langsung melangkah pergi karena tidak tahan melihat wajah marah Elli.
Begitu tiba di luar Klinik, Jack menatap plester yang diberikan Elli. "Aku 'kan tidak butuh ini. Lukaku sama sekali tidak sakit, kok," gumamnya, memasukkan plester ke dalam sakunya. "Sekarang ke mana lagi, ya?"
Dia menengok ke kiri di mana terlihat ada gereja. Dia masih ingat dengan cerita Thomas mengenai si pastur yang aneh itu. Niat untuk berkeliling jadi batal kalau mengingat hal itu. Jack pun memutuskan untuk ke tempat lain saja dulu. Gereja akan dia jadikan sebagai tempat terakhir yang akan dia kunjungi.
Baru saja melangkah, Jack mendengar suara tangis anak kecil. Terlihat di depan rumah Ellen, seorang anak kecil sedang duduk sambil menangis. Segera Jack berlari menghampirinya.
"Kau kenapa, adik kecil?" tanyanya begitu tiba.
"Aku terjatuh," jawab anak kecil itu sambil tetap menangis. "Kakiku terluka."
Jack melihat kaki si anak kecil. Lututnya terluka, tapi cuma tergores. Jack jadi teringat pada plester yang diberikan Elli. Dia segera mengeluarkan plester itu dari saku celananya dan memplesterkan luka anak kecil itu.
"Sudah, jangan menangis. Lukanya sudah diplester. Jadi tidak sakit lagi, kan?" bujuknya.
Anak kecil itu berhenti menangis dan melihat lukanya sudah diplester. "Terima kasih, Kak."
"Sama-sama," sahut Jack sambil mengelus kepala anak itu.
"Kakak orang baru, ya?" tanya si anak kecil.
"Ya, nama kakak Jack," jawab Jack.
"Aku Stu." Anak itu memperkenalkan diri. "Salam kenal, ya, Kak Jack."
"Salam kenal juga, Stu."
Tak lama kemudian Elli datang. Sepertinya dia juga mendengar suara tangis Stu yang keras itu.
"Stu, kenapa kau menangis?" tanya Elli cemas. " Seharusnya laki-laki itu itu tidak boleh menangis," katanya menasehati.
"Tadi aku terjatuh, Kak Elli," kata Stu membela diri sambil berdiri.
"Tetap saja kau tidak boleh menangis hanya karena jatuh."
"Sudahlah, Elli. Stu 'kan masih kecil. Wajar, 'kan?" Jack membela Stu.
"Maaf, ya, Jack. Dia jadi merepotkanmu," ucapnya pada Jack. "Stu itu adikku. Dia memang mudah menangis."
Secara tidak sengaja Elli melihat plester yang diberikannya pada Jack tertempel di kaki Stu. "Plester itu... kenapa kau tidak memakainya? Malah dipakaikan pada Stu."
Jack nyengir. "Itu karena aku mendapatkannya darimu," jawabnya.
Elli terkejut. Lalu dia tersenyum. "Kau ini orangnya lucu, ya. Terima kasih, ya, Jack, sudah menolong adikku," ucapnya. "Stu,sudah bilang terima kasih belum?" tanyanya pada Stu.
"Sudah, Kak," jawab Stu.
"Kalau begitu aku kembali dulu. Ada pekerjaan di Klinik," pamit Elli. "Sampai jumpa." Dia pun berbalik pergi.
"Sampai jumpa, Elli," sahut Jack sambil melambaikan tangan.
Jack jadi merasa sebenarnya Elli memiliki sifat keibuan. Buktinya dia langsung datang begitu mendengar suara adiknya menangis. Hanya saja ketidaksukanya terhadap laki-laki cengeng agak berlebihan. Siapa pun bisa saja menangis, bahkan laki-laki sekali pun.
Biarpun seingatnya teman kecilnya juga punya sifat keibuan, tapi Jack merasa Elli bukan temannya itu karena sepertinya temannya itu tidak membenci laki-laki cengeng. Lagipula reaksi Elli juga sama seperti Mary dan Karen, tidak terlihat seperti pernah mengenal dirinya.
"Oh, ya, Stu. Kau tinggal di mana?" tanya Jack, melihat Stu. "Biar aku mengantarmu pulang."
"Tidak perlu, Kak," tolak Stu. "Rumahku 'kan di sini," ucapnya sambil menunjuk rumah Ellen.
"Rumah Nenek Ellen? Jadi kau ini cucunya Nenek Ellen, ya?" duga Jack.
"Yup," sahut Stu.
"Itu berarti Elli juga cucunya Nenek Ellen," gumam Jack.
Dia baru ingat kalau Ellen dulunya adalah soerang perawat. Tidak heran kalau Elli juga jadi perawat di Klinik. Nama gadis itu juga hampir sama dengan Ellen, Elli.
"Kak, ke rumahku dulu, ya," ajak Stu tiba-tiba. "Nenek baru saja selesai membuat kue. Kue Nenek enak, lho."
"Ya... Baiklah," sahut Jack setuju. Sekalian berkunjung, 'kan?
Mereka berdua kemudian masuk ke rumah Ellen. Ellen pun menyambut kunjungan Jack dengan senang hati.
Welcome to My Fic! \(^O^)/
Maaf telat… Banyak penghalang yang membuatku tidak dapat update. Sebagai gantinya aku tambah 2 chap.
Terima kasih untuk Owlybros The masterless owl dan Domia Ryuugen Chelymystery . Pereview bertambah satu lagi, nih. Senang juga ada yang masih mau meluangkan waktu untuk mereview. Jadi semangat melanjutkan fic ini ^^.
Seperti yang kutulis sebelumnya, fic jadi sedikit lebih panjang. Entah kenapa kelihatannya, di setiap chap, semakin lama ceritanya semakin panjang. Tapi, semoga tidak membosankan dan menjadi bertele-tele karena aku sendiri tidak suka cerita bertele-tele.
ucapannya. Sudah lama tidak main HM, sih. Malah PSnya ada di rumahku yang ada di Papua lagi. Argh, parah...
Ok. Sekali lagi terima kasih bagi yang telah membaca dan juga mereview ^^.
Chapter 5
Title : Inn at Night (Part 1)
Jack menatap langit. Ternyata sudah malam lagi. Waktu terasa begitu cepat. Kalau pulang sekarang, tidak melakukan apa-apa di rumah. Dia memutuskan untuk pergi ke suatu tempat, tapi tidak tahu mau ke mana lagi.
"Jack," seseorang memanggil.
Jack menoleh. Terlihat Thomas sedang menatapnya dari depan pintu rumah. Jack baru ingat kalau rumah Thomas bersebelahan dengan Ellen. "Pak Walikota. Selamat malam," sapanya.
"Selamat malam juga," sapa Thomas. "Sedang apa kau di sini malam-malam begini?"
"Aku dari rumah Nenek Ellen. Stu mengajakku makan di sana," jawab Jack. "Pak Walikota mau pergi, ya?"
"Ya, aku mau ke Inn. Setiap malam aku selalu ke sana," jawab Thomas. "Ada banyak orang di sana saat malam. Kau bisa bertemu banyak penduduk di sana."
"Benarkah? Kalau begitu aku mau ke sana. Bagaimana kalau kita pergi sama-sama, Pak Walikota?"
"Ide bagus. Ayo, kita jalan."
-x-x-
Dari luar bangunan Inn, sudah terdengar suara banyak orang di dalam. Jack dan Thomas berjalan masuk ke dalam Inn. Terlihat banyak orang di dalam. Inn juga terlihat lebih besar dari dalam. Ada tangga menuju lantai atas yang kelihatannya adalah kamar untuk menginap. Namanya juga penginapan. Pasti ada kamar buat menginap.
"Selamat datang," sambut seorang gadis berambut jingga yang dikepang tinggi. Dia memakai jumpsuit biru dan kaos kuning. Penampilannya terlihat sangat tomboy. Dia menyambut dengan senyuman riang.
"Hallo, Ann," sapa Thomas. "Seperti biasa, kau selalu terlihat riang."
"Terima kasih, Pak Walikota." Gadis yang dipanggil Ann itu melihat ke arah Jack. "Kau ini Jack, ya?"
"Ya, itu aku," jawab Jack. "Salam kenal."
"Aku Ann. Selamat datang di Inn. Semoga kau betah di sini," kata Ann, tersenyum.
"Ya."
"Aku ke sana dulu. Berkenalanlah dengan yang lain yang belum kau kenal," kata Thomas.
"Tentu, Pak Walikota," sahut Jack.
Thomas berjalan menuju salah satu meja di mana ada beberapa orang yang sedang duduk di sana. Dan salah satunya ternyata Duke yang ditemui Jack saat berada di Supermarket tadi. Kelihatannya dia sudah mabuk berat. Terlihat dari wajahnya yang memerah. Sisanya dia belum kenal.
"Jack," panggil Ann. Jack menatapnya. "Kudengar kau dari kota, ya? Apakah ini pertamakalinya kau datang ke sini?" tanya Ann.
"Ya, aku dari kota. Harus naik kapal dulu untuk ke sini," jawab Jack. "Tapi, ini bukan pertamakalinya aku datang ke sini. Dulu aku pernah datang sekali untuk liburan. Tapi, itu sudah lama sekali."
"Oh, begitu, ya. Kalau boleh tahu, kenapa kau datang kemari lagi?"
Jack terdiam sejenak. "Awalnya aku datang ke sini untuk melihat tanah warisan dari Kakek, tapi Pak Walikota menawarkanku untuk mengolahnya saja daripada terlantar terus selama bertahun-tahun. Dan juga..." Dia kembali terdiam sejenak. Ann menatapnya dengan penuh penasaran akan kelanjutannya. "Untuk menemui temanku yang tinggal di sini dulu. Aku sudah berjanji untuk datang lagi dan menemuinya," lanjutnya.
"Teman? Siapa?" tanya Ann yang terus-terus saja merasa penasaran pada Jack.
"Itulah masalahnya... Aku lupa namanya. Yang kutahu dia itu tinggalnya di sini. Karena sudah 10 tahun tidak kemari, aku jadi lupa namanya. Dia pasti sudah terlihat berbeda sekarang ini," jawab Jack sambil tertawa malu dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Payah juga ingatanmu. Masa bisa lupa?" ejek Ann. "Tapi, semoga saja kau bisa bertemu dengannya lagi. Sekarang nikmati saja suasana di sini. Nanti juga kau bisa ingat lagi siapa temanmu itu."
"Ya, aku berharap begitu."
Seorang pria paruh baya kemudian memanggil Ann dari meja kasir. "Ann, ada pesanan yang harus kau antar."
"Ya, Ayah. Tunggu sebentar," sahut Ann. Dia kembali menatap Jack. "Itu ayahku. Di sini aku dan Ayah yang mengurus tempat ini."
"Cuma berdua?" tanya Jack heran.
"Begitulah, tapi kadang Cliff ikut membantu," jawab Ann, tetap tersenyum ramah.
"Cliff?"
"Oh, kau belum bertemu dengannya, ya? Kau bisa menemuinya di kamar nomor dua di lantai atas. Sebelum itu, kau mau menemui ayahku dulu?"
"Tentu, aku 'kan belum berkenalan dengan ayahmu."
"Kalau begitu, mari kuantar menemui ayahku."
Jack dan Ann berjalan menuju meja kasir tempat ayah Ann berada. Di depan Beliau ada makanan yang siap diantar.
"Siapa ini, Ann?" tanya ayah Ann saat melihat Jack datang bersama putrinya.
"Ini Jack, yang mewarisi tanah perkebunan di dekat gunung itu," jawab Ann.
"Oh, rupanya Jack. Selamat datang di Mineral Town, Jack," sambut ayah Ann. "Namaku Doug, ayah Ann. Salam kenal, ya."
"Salam kenal juga, Paman Doug," sahut Jack, tersenyum.
"Oh, ya. Ann, tolong antarkan pesanan ini untuk Harris," pinta Doug sambil menyerahkan nampan berisi makanan yang ada di hadapannya pada Ann.
"Baik, Ayah," sahut Ann sambil menerima nampan tersebut. Kemudian dia berjalan menuju salah satu meja di mana ada seorang pria berseragam polisi biru sedang duduk menanti pesanannya.
Jack ingat kalau Harris itu adalah anaknya Thomas yang pernah diceritakan Thomas saat berkeliling kemarin. Sekarang dia bisa tahu seperti apa Harris itu. Bisa kenalan, nih, mumpung berada di tempat yang sama.
"Jack," panggil Doug tiba-tiba.
Jack menoleh. "Ya, Paman..."
"Aku ingin tanya, bagaimana menurutmu tentang Ann?" tanya Doug.
"Ann? Menurutku dia itu lucu. Ditambah lagi dia sangat ramah dan selalu tersenyum. Penuh dengan semangat," jawab Jack jujur. Menurutnya Ann memang begitu.
Doug tertawa pelan. "Ya, dia memang begitu. Hanya saja dia sangat tomboy. Susah sekali menyuruhnya memakai pakaian feminim."
"Bagiku tidak masalah dia tomboy atau tidak asalkan sifatnya yang ramah, penuh semangat, dan selalu tersenyum itu tidak hilang darinya. Bagi banyak orang itu adalah hal yang terpenting. Soal penampilan, itu dari belakang saja."
Doug tertawa pelan lagi. "Begitu, ya. Aku juga berharap sifatnya itu tidak hilang," ujarnya. "Oh, ya. Jack, kau mau memesan sesuatu? Karena kau pendatang baru, kuberi diskon untukmu."
"Oh, terima kasih, Paman. Kalau begitu aku pesan kopi susu satu."
"Segera datang." Doug kemudian berjalan ke menuju dapur yang ada di samping meja kasir.
Jack bersandar di meja kasir sambil menunggu pesanannya. Dia melihat para penduduk yang sedang berada di Inn saat ini. Mereka semua terlihat senang. Dia berharap bisa terus melihat pemandangan seperti ini setiap hari.
"Wah, Jack. Kau datang ke sini juga?" terdengar suara seorang gadis di sampingnya yang sudah tidak asing lagi.
Jack menoleh dan melihat Karen ada di sampingnya. "Karen?"
"Ketemu lagi, ya, Jack," sapa Karen.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jack. Sekilas tercium bau wine dari Karen. Dia terkejut saat menyadarinya.
"Tentu saja untuk minum. Sekarang 'kan jam Bar buka. Aku ke sini setiap malam selama hari buka. Wine di sini sangat enak."
"Kau minum wine?" Jack terlihat tidak percaya.
"Ya, begitulah. Aku sangat suka wine," kata Karen dengan tenangnya sambil menggoyangkan gelas wine yang ada di tangannya.
Jack jadi terdiam saat mendengarnya. Dia tidak menyangka kalau Karen suka minum wine. Dari wajahnya memang bisa terlihat juga kalau dia penyuka wine.
"Kau mau, Jack?" tawar Karen sambil menyodorkan gelas wine miliknya.
"Tidak, terima kasih. Aku sudah memesan minuman lain," tolak Jack ramah.
"Begitu, ya." Karen meminum habis wine yang ada di gelasnya. Dia kemudian mengisi kembali gelasnya dengan wine yang ada di botol di sampingnya dan kembali minum.
"Ngomong-ngomong sudah berapa gelas yang kau minum?" tanya Jack, sebab dia bisa melihat isi botol wine sudah tinggal sedikit.
"10 gelas," jawab Karen enteng.
Jack hampir melompat mundur mendengarnya. 10 gelas? Itu banyak sekali dan Karen masih terus meminumnya tanpa terlihat mabuk sama sekali. Kuat juga dia minum sebanyak itu. Tidak kayak Duke yang kelihatannya sudah tepar di mejanya.
"Kau sendirian di sini?" tanya Jack untuk menghilangkan rasa terkejutnya.
"Tidak, aku bersama orangtuaku," jawab Karen sambil menunjuk dengan jempolnya ke salah satu meja di belakangnya.
Jack melihat ke tempat yang ditunjuk. Terlihat ada Jeff dan Sasha sedang duduk sambil menikmati makanan mereka. Saat masuk tadi dia tidak memperhatikan dengan baik kalau mereka juga ada.
"Kau?" tanya Karen.
"Tentu saja sendiri. Aku 'kan tinggal sendiri. Lagipula ini baru hari ketigaku di sini."
Terlihat Ann berjalan kembali ke meja kasir dan meletakkan nampan yang dibawanya tadi. "Sudah kenalan dengan Karen, ya?" tanyanya pada Jack yang berada di sampingnya karena melihat Jack dan Karen berbicara dengan akrab.
"Ya, aku baru kenalan dengannya tadi siang," jawab Jack. "Ann, apa kau tidak merasa kerepotan melayani semua orang di sini sendiri?" tanyanya karena tadi sempat melihat Ann mondar-mandir mencatat pesanan.
"Aku sudah biasa, kok. Bahkan aku menikmatinya. Pekerjaan akan terasa lebih ringan, bahkan tidak terasa berat sama sekali, bila kau menikmatinya. Ayahku suka mengatakan hal itu padaku," jelas Ann, tersenyum.
"Ann itu bukan sudah terbiasa, tapi pada dasarnya tenaganya memang besar dan tidak mau diam. Itu sebabnya dia bersikap sangat tomboy dan tidak merasa lelah walaupun telah bekerja sangat keras," sindir Karen sambil meminum wine-nya
"Karen..." gerutu Ann.
Jack cuma tertawa kecil melihat tingkah dua gadis yang ada di dekatnya itu. Mereka bisa saja bercanda seperti itu.
Doug kemudian keluar dari dapur sambil membawa secangkir kopi susu yang dipesan Jack tadi dan meletakkannya di depan Jack. "Ini pesananmu, Jack."
"Terima kasih, Paman Doug," ucap Jack.
"Sama-sama."
"Hei, tadi apa yang Ayah bicarakan dengan Jack?" tanya Ann penasaran.
"Kau tidak perlu tahu," jawab Doug. "Ini urusan laki-laki. Benar 'kan, Jack?"
"Ayah..." Ann kembali menggerutu.
Jack cuma tertawa kecil melihatnya. Ann memang orang yang lucu. Sangat lucu. Karen pun cuma terkekeh pelan melihat sikap Ann itu. Melihat sikap Ann, Jack mencoba mengingat apakah teman kecilnya itu periang. Seingatnya memang periang, tapi masih terlihat feminim dibanding Ann yang tomboy itu.
Bukan Ann juga, ya, batinnya.
Tiba-tiba terlihat sebuah cahaya blitz kamera dari belakang. Jack, Ann, Karen, dan Doug yang terkejut, melihat ke arah datangnya cahaya blitz itu. Terlihat ada seorang pria berusia 20 tahunan berkemeja putih dan berompi, sedang memegang kamera yang diarahkan ke mereka berempat.
"Ini pemandangan yang bagus," kata pria itu.
"Kano, kalau mau memotret, jangan diam-diam seperti itu," protes Karen, sambil berdecak pinggang.
"Tapi, kalau tidak begitu, kealamian ekspresi kalian tidak akan terlihat. Yang namanya foto harus tampak hidup dan alami," kata pria bernama Kano itu, membela diri.
Jack teringat kembali tentang cerita Thomas. Dia bukan cuma tinggal berdua bersama Harris saja. Ada seorang lagi yang bernama Kano yang merupakan seorang fotografer.
Jadi ini orangnya, batin Jack.
"Kau Jack, ya? Perkenalkan, aku Kano, seorang fotografer profesional dan satu-satunya di Mineral Town ini," ucap Kano memperkenalkan diri dengan gaya yang bisa dibilang sok keren dan sok penuh wibawa. Jack cuma melongo melihatnya.
"Profesional apanya? Foto musim semi tahun lalu saja gambarnya tidak jelas semua," timpal Karen dengan wajah kesal. Dia terlihat tidak suka dengan sikap Kano itu.
"Itu karena ada sedikit kesalah teknis saat pengambilan gambar," kata Kano masih tetap dengan gaya sok kerennya.
"Sedikit? Buram semua dibilang sedikit? Ya, ampun Kano..." Karen menepuk dahinya sendiri saking kesalnya pada Kano. "Terserah kau saja. Tapi, bila gambar tadi tetap tidak jelas lagi, akan kulempar kameramu ke laut."
"Jangan... ini satu-satunya kameraku." Kano langsung memeluk erat kameranya.
Jack benar-benar cuma bisa bengong melihat perdebatan antara Karen dan Kano itu. Perdebatannya itu terlihat aneh, lucu, garing, entahlah. Yang jelas Jack benar-benar tidak dapat berkomentar apa-apa. Ann dan Doug juga cuma bengong melihatnya.
"Tenang saja, Jack. Foto tadi pasti bagus," kata Kano begitu yakin sampai-sampai Karen lagi-lagi menepuk dahinya sendiri.
"Kuharap begitu," sahut Jack, maksa senyum.
Welcome to My Fic! \(^O^)/
Akhirnya bisa lanjut juga setelah sempat kehabisan ide untuk melanjutkan ceritanya. Semoga ceritanya tetap menarik bagi semua yang membaca.
Terima kasih untuk para pereview yang telah repot-repot mereview fic ini.
To Owlybros The masterless owl: Sudah kureview. Maaf, ya, terlambat. Sering susah sinyal di tempat kostku. Aku juga jarang ke warnet, sih... Sekali lagi maaf, ya...
To Sakura 'Cherry' Snowfalls: Kalau tentang siapa yang akan jadi pasangan Jack, itu belum kutentukan. Aku sendiri masih bingung mau pakai siapa. Mungkin bisa saja OC! Hehe... bercanda... Jangan dianggap serius... Tapi, lihat saja nanti. Lagipula ceritanya juga kelihatannya akan panjang.
To Deffene FATE: Salam kenal juga, Deffene ^^. Boleh saja memanggilku begitu. Tidak ada yang larang, kok. Ficmu juga bagus, kok. Lebih bagus malah. Tentu saja aku juga akan membuat event buatan yang sebagai permulaan sudah kubuat dalam fic kali ini dalam pertemuan antara Jack dan Kano. Tapi, ini masih terlihat seperti modifikasi event saat pertama kali datang ke Inn. Yang penting udah ada event buatan, 'kan? Hehehe...
Langganan:
Postingan (Atom)